TAUBAT
"Dan bersegaralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu dan kepada surga yang luasnya seluas langit dan bumi... " (QS Al Imran : 133)
Beberapa tingkatan Orang yang Bertaubat
1. Taubat Orang Awam
Orang yang awam bertaubat hanya untuk dosa-dosa besar seperti zina, membunuh, dan mencuri sementara dia tetap melakukan dosa-dosa kecil yang lebih halus. Dia hanya melihat kepada dosa-dosa besarnya dan meremehkan dosa-dosa yang dianggap kecil.
2. Taubat Orang Khusus
Orang ini sudah bertaubat dari dosa-dosa kecil yang lebih halus. Dia bertaubat atas kedengkian kepada temannya, atau ketika dia merasa hebat karena memiliki kedudukan dan jabatan. Tatkala dia shalat tahajud sendirian dan tidak mau membangunkan orang lain karena ingin shaleh sendirian, maka dia bertaubat setelah menyadarinya.
3. Taubat orang khusus bil khusus
Orang ini bertaubat bukan karena telah berbuat maksiat tetapi karena lalai mengingat Allah. Walaupun dia sudah sholat dengan baik dan berjamaah, tapi dia tetap bertaubat karena tidak melaksanakannya awal waktu. Begitupun dia merasa sedih tatkala tidak sempat sholat sunnat. Dia menyesal karena tidak memberikan yang terbaik dalam beramal. Dia bertaubat sebab tidak menyempurnakan ladang amal yang sudah disediakan oleh Allah karena tidak mempersembahkan yang terbaik bagi PenciptaNya
Cara Bertaubat
1. Menyesal
Adanya penyesalan setelah melumuri diri dengan dosa dan kenistaan, adanya penyesalan sesudah berbicara kotor, penyesalan ketika mata melihat kemaksiatan, penyesalan ketika menyakiti orang lain, menunjukkan adanya gejala-gejala taubatan nasuha ( taubat yang sunggh-sungguh). Karena orang yang tidak menyesal tidak termasuk bertaubat. Orang yang bangga dengan dosa-dosa yang pernah dilakukannya menunjukkan dia belum sungguh-sungguh bertaubat. Sebaliknya deraian aior mata dan menggigilnya perasaan, merupakan ekspresi dari penyesalan yang mendalam.
2. Minta ampun kepada Allah
Minta ampun kepada Allah bisa dilakukan dengan istighfar. Sebagaimana dicontohkan oleh Nabi Adam dan Siti Hawa setelah mereka diusir dari surga akibat kesalahan yang telah dilakukan.
"Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sendiri dan jika Engkau tidak mengampuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi." (QS Al a'raf : 23)
Atau beristighfar sebagaimana yang dicontohkan oleh Nabi Yunus, ketika berada di dalam perut ikan di dasar laut pada kegelapan malam. Nabi Ynus meningglakan perintah untuk terus berdakwah kepada kaumnya. Dia menyeru kepada Allah Tuhan Yang maha Mendengar, "Bahwa tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Engkau. Maha suci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim."
Tuhan pun kemudian mendengarkan doanya, menyelamatkannya dari kedukaan.
Meminta ampun kepada Allah memang harus dilakukan dengan sungguh-sungguh dar hati yang paling dalam. Inilah aslah satu tanda orang yang sungguh-sungguh dalam taubatnya.
3. Gigih untuk tidak mengulangi
setelah kita merasa menyesal, kemudian memohon ampunan dengan penuh kesungguhan maka langkah selanjutnya yaitu tidak mengulangi lagi perbuatan dosa. Jangkan melakukannya, berpikir ke arah sana saja tidak boleh.
Ciri Taubat yang diterima
Taubat nasuha adalah sebuah bentuk permohonan dari seorang manusia kepada Tuhannya. Dengan harapan Tuhan akan berkenan mengampuni segenap kesalahannya, sebagimana layaknya sebuah permohonan, taubat pun dapat diterima dapat pula sebalknya. Bagaimana ciri-ciri dari taubat yang diterima? Menurut Imam al Ghazali dalam kitabnya Muqasysyafatul qulub, ada beberapa ciri yang menunjukkan taubat seseorang diterima yaitu:
- Orangnya kelihatan lebih bersih dan lebih suci dari perbuatan maksiat dan lebih bisa menahan diri. Dia seolah-olah mempunyai rem pakem yang akan membuat diriya terhalang dari berbuat dosa.
- harinya selalu lapang dan gembira dalam keadaan sendiri maupu ramai. Hatinya sudah dihibur oleh allah sehingga menjadi jernih dan lapang.
- dia selalu bergaul dengan orang baik dan mencari lingkungan yang baik pula. Orang yang sudah bertaubat tetapi kembali ke lingkungan yang tidak baik berarti dia belum sungguh-sungguh taubatnya., kecuali kalau niatnya adalah untuk mengubah lingkungan itu. Mencari lingkungan yang baik adalah salah satu bagian yang akan membuat kita terpelihara.
- kualitas amalnya jadi meningkat. Dia serius sekali menata amal-amalnya selain dia menahan diri dari perbuatan maksiat, kualitassholatnya juga semakin bagus, shaumnya istiqamah, malam-malamnya dia hidupkan dengan tahajud. Kualitas amalnya nbergera ke arah yang lebih baik. Inilah gejala orang yang taubatnya diterima.
- dia senantiasa menjaga lidahnya. Dia memiliki kualitas pengendalianlisan dan fikiran. Ingatan nya kepada Allah semakin maksimal sehingga cinta dab kerinduannya kepada Allah semakin menggebu.
Jadi alau saat ini kita masih senang melakukan maksiat, hati terus gelisah terhadap urusan dunia, lalu tidak memilih pergaulan yang terpelihara, jarang mengingat Allah dan kualitas amalnya merosot, mulut kita terus bunyi walaupun tidak diperlukan bahkan sering menyakiti, itu bisa jadi taubat kita sekedar taubat "sambal" artinya kita menyesal namun hanya sekedar penyesalan yang emosional, belum sampai takut kepada allah.
Alangkah indahnya jika ditengah lautan dosa yang mengunng, Allah berkenan menerima taubat kita..namun seiring perjalanan hidup yang terus bergulir, kesempatan untuk berbuat dosa, aib dan kesalahan terus terbentang di hadapan kita. Timbulnya dosa itu tidak langsung jadi namun ada proses terjadinya.
Kalau niat dan kesempatan ada maka terjadinya dosa sehingga dua hal ini harus ditata.
Lintasan hati untuk berbuat maksiat akan selalu ada pada siapa pun karena softwarenya begitu, sudah suatu kecenderungan untuk seperti itu. Al ur'an telah menyinggung hal ini dalam ayatnya yang berarti:
"maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketakwaan." (QS Asy-yam :98) Oleh karena itu tugas kita adalah bagaimana mengendalikan kedua potensi itu agar berjalan pada rel yang benar.
Dibawah ini akan dipaparkan dua kita agar kita terhindar dari perbuatan maksiat, yaitu sebagai berikut:
Pertama, setiap timul lintasan untuk berbuat maksiat langsung :cut" (dipotong). Persis seperti syuting sinetron, ketika adegannya salah langsung di cut. Begitu juga dengan hati kita, ketika pikiran jahat muncul langsung cut dan buang dari pikiran kita. Ketrampilan ini bisa menjadi kunci penghalang kita dari dosa.
Kedua, jangan membuat kesempatan karaena kalau kesempatan ada, niat ada, maka akan berjumpa dalam satu titik dosa. Maka jangan lewat suatu jalan kalau di jalan itu dapat m,enimbulkan kemaksiatan. Kalau di kamar kita ada VCD player dan kita penah memutar film-film maksiat, maka langsung keluarkan VCD player itu. Kalau di kamar kita ada televisi dan kita bisa seenaknya nonton, keluarkan televisi itu kalau akan menjadi maksiat. Jika di setiap kamar kita ada telepon dan itu mempermudah sarana untuk bermaksiat, maka ada baiknya jika telepon disimpan di ruang tamu, sehingga susah menjadi jalan maksiat.
Bukan berarti tidak boleh memiliki semua fasilitas itu tetapi sarana apa pun bisa menjadi jalan kejahatan kalau tidak hati-hati . Maka segera jauhkan semua sarana yang berpeluang membuat kita bermaksiat.
Sahabat sekalian, episode demi episode kejadian memang datang dan pergi silih berganti dalam belantera kehidupan ini. Tak jarang kita mengisinya dengan dosa, aib dan kesalahan, maka marilah kita lazimkan beristifgfar. Karena dampaknya luar biasa dalam rangka bertaubat kepada Allah. Allah sendiri telah berpesan kepada kita dalam kitab sucinya yang terpelihara: "...Dan hendaklah kamu meminta ampun kepada Tuhanmu dan bertaubat kepadanya,. (Jika kamu mengerjakan yang demikian), niscaya Dia akan memberi kenikmatan yang baik(terus menerus) kepadamu sampai kepada waktu yang ditentukan dan Dia akan memberi kepada tiap-tiap orang yang mempunyai keutamaan (balasan) keutamaannya..." (QS Huud: 33)
(Sumber: Taubat oleh Abdullah Gymnasiar, Khas MQ, 2005)